JAKARTA || sinargunung.com — Menjelang Munas HIPMI XVIII, nama Ade Jona Prasetyo semakin menguat sebagai kandidat Ketua Umum BPP HIPMI periode 2025–2028. Dukungan dari sejumlah pihak yang dekat dengan penguasa dinilai bukan bentuk intervensi, melainkan peluang kolaborasi strategis antara negara dan pengusaha muda.
Menguatnya dukungan terhadap Ade Jona menjadi sorotan karena dinilai membuka ruang sinergi lebih erat antara pemerintah dan HIPMI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ade Jona Prasetyo sebagai kandidat ketua umum, didukung oleh sejumlah tokoh, termasuk William Heindrich, serta jaringan pengusaha muda dan pemangku kepentingan.
Momentum ini terjadi menjelang Munas HIPMI XVIII yang akan digelar dalam waktu dekat pada 2026.
Selama ini, hubungan HIPMI dan pemerintah kerap berjalan terpisah. Pengusaha mengeluhkan birokrasi dan akses modal, sementara kebijakan pemerintah dinilai kurang menyentuh kebutuhan riil di lapangan.
Jika terpilih, Ade Jona dinilai mampu menjadi jembatan antara dunia usaha dan pemerintah, mempercepat akses kebijakan, membuka peluang permodalan, dan meningkatkan peran HIPMI dalam proyek strategis nasional.
Ade Jona bukan sosok baru di HIPMI. Saat menjabat Ketua BPD HIPMI Sumatera Utara periode 2021–2024, ia dinilai berhasil mendorong pertumbuhan UMKM dan investasi daerah. Pengalamannya sebagai legislator juga dianggap memberi nilai tambah dalam memahami mekanisme kebijakan publik.
Pengamat menilai, ada tiga potensi keuntungan dari kolaborasi ini. Pertama, akses kebijakan menjadi lebih cepat karena jalur komunikasi langsung dengan pemerintah. Kedua, distribusi pembiayaan seperti KUR dan program BUMN bisa lebih merata hingga ke daerah. Ketiga, posisi HIPMI berpotensi naik kelas dari sekadar pelaku menjadi mitra dalam perencanaan proyek besar seperti hilirisasi industri dan ekonomi hijau.
Meski begitu, muncul kekhawatiran soal independensi organisasi. Namun, sejumlah pihak menilai kedekatan dengan pemerintah tidak otomatis menghilangkan sikap kritis, selama kepentingan anggota tetap menjadi prioritas utama.
William Heindrich menyebut dukungan terhadap Ade Jona sebagai langkah realistis di tengah kebutuhan akan kepemimpinan yang mampu berkolaborasi cepat dengan pemerintah.
“Munas kali ini menjadi titik penting. Pertanyaannya bukan lagi soal dekat atau tidak dengan penguasa, tapi bagaimana kedekatan itu dimanfaatkan untuk kepentingan anggota,” ujarnya.
Dengan demikian, Munas HIPMI XVIII dinilai sebagai momentum penentu arah organisasi ke depan: tetap berada di luar sistem atau masuk sebagai mitra strategis pemerintah.
Jika kolaborasi berjalan efektif, periode kepemimpinan mendatang berpotensi menjadi fase penting dalam sejarah HIPMI, ketika pengusaha muda dan negara berjalan dalam satu visi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. red

