KOTA TANGERANG || sinargunung.com – Badan Himpunan Pelayanan Publik dan Hukum Independen (BHP2HI) mengungkap sejumlah temuan terkait operasional Bus Tangerang Live setelah melakukan audiensi dengan PT Tangerang Nusantara Global (PT TNG), perusahaan yang mengelola layanan transportasi tersebut.
Pertemuan yang berlangsung di kantor PT TNG, kawasan Ruko Sentra Cimone, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Rabu (3/6/2026), menjadi forum klarifikasi atas berbagai persoalan yang selama ini menjadi perhatian publik.
Audiensi dihadiri Sekretaris Jenderal BHP2HI Makasanudin SH atau yang akrab disapa Ichsan, anggota BHP2HI Ajang Rohyana, serta perwakilan Rumah Redaksi. Dari pihak PT TNG, audiensi diterima oleh Imad sebagai perwakilan perusahaan.
Menurut Ichsan, audiensi dilakukan setelah BHP2HI melayangkan surat klarifikasi dan permohonan penjelasan resmi terkait sejumlah dugaan persoalan operasional yang ditemukan di lapangan.
Dalam pertemuan tersebut, PT TNG memberikan penjelasan terhadap delapan poin pertanyaan yang diajukan BHP2HI, mulai dari penggunaan anggaran operasional, kondisi armada, hingga dugaan pelanggaran standar keselamatan dan ketenagakerjaan.
Salah satu poin yang menjadi sorotan adalah penggunaan anggaran operasional Bus Tangerang Live yang disebut mencapai Rp36 miliar per tahun. PT TNG menjelaskan bahwa dana tersebut merupakan bentuk subsidi operasional yang perhitungannya mengacu pada regulasi Kementerian Perhubungan. Namun, perusahaan mengakui belum dapat menerapkan seluruh standar biaya yang ditetapkan pemerintah pusat karena keterbatasan anggaran daerah.
Selain itu, PT TNG juga mengonfirmasi adanya sejumlah armada yang tidak beroperasi dan terparkir di Terminal Poris Plawad. Menurut perusahaan, sebagian kendaraan tersebut merupakan armada cadangan yang disiapkan untuk menggantikan bus yang mengalami gangguan teknis di setiap koridor layanan.
Temuan lain yang mendapat perhatian adalah belum tersedianya gardu listrik permanen untuk mendukung operasional armada. PT TNG mengakui hingga saat ini masih memanfaatkan sumber listrik dari fasilitas penerangan jalan umum karena lokasi yang digunakan masih berstatus sewa dari Dinas Perhubungan.
Yang cukup mengejutkan, dalam audiensi tersebut PT TNG juga membenarkan adanya penggunaan ban vulkanisir pada sebagian armada. Pihak perusahaan mengakui penggunaan ban jenis tersebut tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
BHP2HI turut mempertanyakan kompetensi teknisi yang menangani perawatan armada. Menanggapi hal itu, PT TNG menyatakan pekerjaan pemeliharaan dilakukan oleh pihak ketiga yang sebelumnya telah menyerahkan dokumen perusahaan dan persyaratan kerja sama.
Persoalan kesejahteraan pengemudi juga menjadi pembahasan. BHP2HI menyoroti dugaan gaji sopir yang berada di bawah standar upah minimum serta adanya potongan iuran BPJS yang dibebankan kepada pekerja. PT TNG mengaku akan melakukan penelusuran lebih lanjut kepada perusahaan mitra yang bertanggung jawab atas pengelolaan tenaga kerja.
Perusahaan juga berjanji memberikan jawaban tertulis serta data pendukung yang diminta BHP2HI dalam waktu maksimal dua pekan.
Meski demikian, Sekjen BHP2HI Makasanudin menyayangkan ketidakhadiran pihak ketiga dalam audiensi tersebut. Menurutnya, kehadiran perusahaan mitra seharusnya dapat mempercepat proses klarifikasi dan menghindari pengulangan pembahasan di kemudian hari.
“Banyak pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab langsung oleh pihak ketiga. Dengan tidak hadirnya mereka, proses klarifikasi menjadi kurang maksimal,” ujar Ichsan.
Ia juga mendesak PT TNG untuk menjelaskan bentuk sanksi yang akan diberikan apabila terbukti terjadi pelanggaran oleh perusahaan mitra, terutama jika pelanggaran tersebut dilakukan berulang kali.
Menurut BHP2HI, transparansi terkait isi perjanjian kerja sama dan mekanisme pengawasan terhadap pihak ketiga penting dilakukan agar penggunaan anggaran publik dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
BHP2HI menegaskan akan terus mengawal persoalan ini dan menunggu tindak lanjut resmi dari PT TNG, termasuk langkah evaluasi terhadap pihak ketiga yang diduga berkontribusi terhadap berbagai persoalan operasional Bus Tangerang Live. red

