Sinargunung.com, Jakarta | Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, memberikan tanggapan terkait penolakan pembangunan rumah duka dan krematorium di Kalurahan Tegal Alur, Kalideres, serta Cengkareng Barat. Penolakan ini disuarakan oleh masyarakat setempat yang tergabung dalam Aliansi Menceng Menolak, yang menyampaikan kekhawatiran terkait dampak sosial dan lingkungan dari proyek tersebut.
“Aspirasi yang disampaikan oleh Aliansi Menceng Menolak tentu menjadi perhatian penting bagi pemerintah daerah. Kami sangat menghargai keterlibatan masyarakat dalam setiap kebijakan yang menyangkut lingkungan mereka,” kata Heru pada awak media, Senin 23/9/2024.
Heru menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan setiap pembangunan di wilayah DKI Jakarta berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, menghormati nilai-nilai budaya dan agama, serta memperhatikan aspek lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Pembangunan rumah duka dan krematorium di kawasan Tegal Alur, Kalideres, dan Cengkareng Barat tidak lepas dari kajian yang komprehensif, yang melibatkan berbagai pihak, termasuk warga setempat.
“Saya memahami bahwa pembangunan ini mungkin menimbulkan kekhawatiran, terutama dari segi lingkungan, kesehatan, dan dampak sosial,”ujarnya.
Menurutnya setiap proyek pembangunan, termasuk rumah duka dan krematorium ini, harus memenuhi standar kesehatan, lingkungan, dan kenyamanan bagi warga sekitar.
“Kami ingin memastikan bahwa segala aspek yang menyangkut pembangunan ini dipertimbangkan dengan baik. Pemerintah tidak akan mengabaikan kesehatan dan keselamatan warga,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gubernur DKI menggarisbawahi pentingnya proses dialog yang berkesinambungan antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, masyarakat berhak untuk didengar, dan pemerintah memiliki kewajiban untuk memberikan solusi yang terbaik.
“Kami berkomitmen untuk mendengarkan aspirasi warga dan mencari solusi yang dapat mengakomodasi kepentingan semua pihak,” tandasnya.
Gubernur Heru Budi Hartono juga mengajak para tokoh agama dan masyarakat untuk bersama-sama mencari solusi terbaik. Menurutnya, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam masyarakat yang beragam. Namun, semangat musyawarah dan gotong royong harus selalu dikedepankan dalam mencari jalan keluar dari setiap permasalahan.
“Saya yakin, dengan semangat musyawarah dan gotong royong, kita dapat menemukan jalan keluar terbaik,” ujarnya.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait dampak lingkungan dan kesehatan dari pembangunan rumah duka dan krematorium, Heru Budi Hartono menjelaskan bahwa pemerintah akan memastikan semua aspek ini dipertimbangkan dengan serius.
“Kami sangat memahami pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Setiap pembangunan yang dilakukan harus sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan tidak boleh menimbulkan dampak negatif bagi warga sekitar,” pungkasnya.
Sebelumnya Aliansi Menceng Menolak mengelar aksi menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan rumah duka dan krematorium di Tegal Alur dan Cengkareng Barat. Mereka menyebut pembangunan tersebut dapat berdampak negatif terhadap kualitas udara dan lingkungan sekitar.
Selain itu, mereka juga menyuarakan kekhawatiran bahwa proyek ini tidak sesuai dengan karakter sosial dan budaya masyarakat setempat. Sejumlah tokoh masyarakat dan agama turut bergabung dalam aliansi ini, menyatakan bahwa rumah duka dan krematorium di kawasan tersebut dapat menimbulkan keresahan sosial di kalangan warga.
Aliansi Menceng Menolak mendesak pemerintah untuk melakukan kajian ulang serta mengajak masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan yang lebih terbuka dan partisipatif. (Asrori)

