Kots Tangerang ||sinargunung.com – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Tangerang berkolaborasi dengan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kota Tangerang menggelar sosialisasi pendidikan anak sebagai upaya mendorong penguatan karakter generasi muda. Kegiatan tersebut berlangsung di Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, Rabu (4/2/2026).
Mengusung tema Penguatan Pendidikan Karakter Anak melalui Pendekatan Edukatif dan Preventif, kegiatan ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Tangerang Maryono, perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Tangerang, serta melibatkan sejumlah organisasi kepemudaan (OKP).
Usai sesi utama di MUI Kota Tangerang, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi olahraga tradisional dan olahraga masyarakat bersama Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) yang melibatkan Persatuan Olahraga Tradisional Indonesia (Portina).
Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono, menegaskan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama yang bersifat kolektif. Ia mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menghadirkan kegiatan yang berpihak pada kepentingan anak.
Menurutnya, pembangunan Kota Tangerang yang ramah anak harus diwujudkan melalui penyediaan ruang aman, kesempatan belajar yang luas, serta lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, termasuk ketersediaan ruang bermain yang layak.
“Pendidikan bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama. Mari kita wujudkan kota yang ramah anak dan berpihak pada masa depan generasi,” kata Maryono.
Ia berharap kegiatan tersebut mampu melahirkan gagasan-gagasan baru dalam meningkatkan kualitas pendidikan, perlindungan anak, serta peran pemuda di tengah masyarakat. Menurutnya, sinergi antara pemerintah, pendidik, organisasi kepemudaan, dan masyarakat menjadi kunci penguatan pendidikan di daerah.
“Arah besar kita adalah memperkuat proses pengajaran dan pembelajaran di sekolah agar generasi penerus tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter dan berdaya saing,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua LPAI Pusat yang juga menjadi pemateri, Prof. Dr. Seto Mulyadi, menekankan pentingnya menghadirkan ruang tumbuh yang sehat bagi anak melalui pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka.
“Dunia anak adalah dunia bermain. Melalui permainan tradisional, kita bisa membangun karakter sekaligus mengurangi ketergantungan anak pada gadget, sehingga mereka tumbuh sehat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual,” jelasnya.
Kepala Dinas Olahraga Kota Tangerang, Kanonang, turut mengapresiasi kegiatan kolaboratif tersebut. Menurutnya, sinergi antara PMII, LPAI, Portina, dan KORMI menjadi contoh positif dalam menghadirkan program langsung ke tengah masyarakat.
“Kegiatan ini dilaksanakan secara kolaboratif tanpa menggunakan APBD. Selain hadir di tengah masyarakat, kami juga berupaya melestarikan olahraga tradisional agar tetap dikenal dan diminati,” ujarnya.
Ia menambahkan, olahraga tidak harus mahal. Melalui olahraga tradisional, masyarakat dapat memperkuat kebersamaan, meningkatkan interaksi sosial, serta mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gawai.
“Anak-anak bisa mengenal permainan seperti enggrang, lari balok, suitan, dan permainan tradisional lainnya. Ini sederhana, seru, dan sangat bermanfaat,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, sejumlah olahraga tradisional di bawah naungan Portina turut diperkenalkan, seperti enggrang, lari balok, pangkia, supitan, ketapel, serta berbagai permainan tradisional lainnya. Meski belum seluruh cabang ditampilkan karena keterbatasan lokasi, ke depan direncanakan kegiatan serupa dengan skala yang lebih besar.
Di sisi lain, Ketua LPAI Kota Tangerang Rudini Syahputra menyoroti masih maraknya kasus perundungan (bullying) di lingkungan sekolah. Ia menegaskan bahwa korban bullying yang tidak mendapatkan pendampingan berisiko mengalami trauma berkepanjangan.
“Bullying tidak boleh dianggap sepele. Korban yang tidak ditangani dengan baik bisa mengalami trauma dan berpotensi mengulang pola kekerasan yang sama. Karena itu, pendampingan dan pemulihan trauma menjadi penting,” tegasnya.
Ketua PC PMII Kota Tangerang, Oki Putra, menekankan bahwa pembentukan karakter anak sejak dini merupakan fondasi penting bagi masa depan bangsa. Ia menyebut, kegiatan yang digagas PMII tidak berhenti pada seremoni, tetapi berangkat dari realitas sosial yang dihadapi anak-anak di lapangan.
“Fokus kami bukan sekadar seremoni, tetapi melihat kondisi nyata, termasuk anak-anak yang tinggal di lingkungan kurang layak dan membutuhkan ruang belajar yang ramah,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal sebelum PMII memperluas gerakan ke wilayah pinggiran yang masih minim akses pemenuhan hak anak.
“Kami berharap keterlibatan pemerintah dan dinas terkait tidak berhenti pada slogan Kota Layak Anak, tetapi diwujudkan melalui terobosan dan kerja konkret yang benar-benar berdampak,” pungkasnya.
