Wisuda STAI Muttaqien Soroti Tantangan Literasi Digital

PURWAKARTA, sinargunung.com – Pentingnya penguatan literasi digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi menjadi sorotan dalam orasi ilmiah pada Wisuda Sarjana ke-34 dan Magister ke-9 STAI Dr. K.H. EZ. Muttaqien.

Hal tersebut disampaikan Muhammad Ridwan Efendi di hadapan 165 wisudawan dan wisudawati dalam acara yang berlangsung di Hotel Plaza Purwakarta, Sabtu (29/8/2026).

Ridwan yang merupakan dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengatakan, perkembangan teknologi digital harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memahami, memilah, serta menggunakan informasi secara bijak.

Menurutnya, penguatan literasi digital tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pendidikan, tetapi juga membutuhkan peran keluarga dan masyarakat.

Ia mengaitkan pentingnya budaya belajar dengan perintah membaca dalam Al-Qur’an. Menurut Ridwan, surat Al-Alaq sebagai wahyu pertama mengandung pesan penting agar manusia terus belajar dan mampu membaca berbagai fenomena, baik secara tekstual maupun kontekstual.

“Iqra, surat Al-Alaq adalah surat yang pertama kali diturunkan. Ini menunjukkan pentingnya kita tetap belajar dan mau membaca semua fenomena, baik tekstual maupun kontekstual,” ujar Ridwan.

Ia menilai perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) saat ini telah memberikan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Teknologi tersebut tidak hanya digunakan dalam bidang pendidikan dan pekerjaan, tetapi juga mulai memengaruhi ruang sosial dan politik.

BACA JUGA  Kemensos Tawarkan Kampus Berkualitas dengan Biaya Kuliah Rp1 Jutaan per Semester

Menurut Ridwan, kondisi tersebut harus dihadapi dengan kemampuan literasi digital yang memadai agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi yang keliru maupun manipulatif.

Selain AI, ia juga menyoroti persoalan judi online yang dinilai telah menjadi ancaman sosial. Aktivitas tersebut, kata dia, tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga telah menyentuh lingkungan aparatur pemerintahan.

Ridwan menilai kondisi tersebut menjadi alarm bagi pemerintah, keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk meningkatkan edukasi serta pengawasan terhadap penggunaan teknologi digital.

Dalam kesempatan itu, Ridwan mengingatkan para wisudawan bahwa prosesi wisuda bukan menjadi akhir dari perjalanan pendidikan.

Sebaliknya, wisuda merupakan pintu masuk menuju dunia profesional yang menghadirkan tantangan baru, terutama di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Ia meminta para lulusan mampu memanfaatkan teknologi dan perangkat digital secara produktif. Menurutnya, gawai dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat, tetapi juga dapat menimbulkan dampak negatif apabila tidak dikendalikan.

“Teknologi dan gawai seperti dua sisi pisau. Karena itu, penggunaannya harus dikendalikan agar memberikan manfaat,” katanya.

BACA JUGA  Golkar Purwakarta Kerahkan Kader Ikuti Dikpol Berbasis Data Demi Target Menang di Pemilu 2029

Ridwan kemudian menjelaskan tiga spektrum perubahan yang dinilainya penting dipahami dalam menghadapi perkembangan zaman, yakni reformasi, transformasi, dan akomodasi.

Reformasi, menurut dia, berkaitan dengan upaya membuka perubahan menuju kondisi yang lebih baik dan maju. Sementara transformasi menekankan perubahan secara sadar dengan tetap mempertahankan nilai kemanusiaan.

Sedangkan akomodasi berarti menerima perkembangan baru secara inklusif tanpa serta-merta meninggalkan hal-hal lama yang masih memiliki manfaat.

Ridwan juga mengingatkan dampak penggunaan gawai secara berlebihan, khususnya terhadap anak-anak.

Menurutnya, intensitas interaksi dengan perangkat digital tanpa pendampingan dapat membuat anak menjadi lebih individualistis. Ia juga menyinggung persoalan keterlambatan kemampuan berbicara dan berbahasa atau speech delay yang perlu menjadi perhatian bersama.

Karena itu, ia menekankan pentingnya kehadiran guru, dosen, orang tua, dan pendidik dalam memberikan pendampingan kepada generasi muda.

“Siapa yang harus hadir? Kita sebagai guru, dosen dan pendidik yang bisa memberikan sanad keilmuan yang jelas,” tegas Ridwan.

Ia berharap para lulusan STAI Dr. K.H. EZ. Muttaqien tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menjadi bagian dari masyarakat yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Dm

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *